Sabtu, 10 Januari 2015

KEPERGIAN MU

Ketika nafasku tlah terhenti
ku berharap tak ada rasa dengki di antara kita
Dan jika langkahku tlah terhenti mengembara
Aku ingin melihat kau tersenyum padaku kembali
Seperti kau tersenyum pada bidadarimu
Yang kau kagumi selama ini
Dikau adalah permata yang tersimpan di hati
Yang selalu bersinar terang
Menerangi setiap hariku
Serta langkahmu yang begitu berarti untukku
Aku tak tau jika takkan melihat langkahmu kembali?
Mungkin ku telah terjebak dalam kegelapan yang tak kusadari
Jika kau menganggap ku berarti
ku ingin kau laksana langit
Meski sempat gelap terangnya dapat di hitung dalam keheningan malam
Jika ku melihat samudera
Ku selalu ingat begitu luasnya cintaku untukmu
Serta begitu sucinya sesuci tetesan air hujan
Yang selalu membuatku bahagia karena karunianya
Tapi apakah ku berarti untukmu?
Tak taulah terlihat bagai mimpi
Mimpi yang menyedihkan,,,,,,,,,,,,,,,,
Tapi mengapa sampai saat ini tak kau tunjukkan senyumu padaku?
Padahal dulu ku mengira hanya aku yang bisa membutmu tersenyum
Tapi itu salah,salah besar sebesar lukaku di hati
Tapi mengapa kau datang dan pergi begitu saja
Tidak kau lihatkah lubang di dadaku
Lubang yang hampir menembus seluruh hidupku
Yang akan hancur lebur bagai perasaanku
Tak taukah kau?

USAILAH SUDAH

Usailah Sudah



Semua Telah Terjadi Dan Takkan Berulang Lagi.
Berawal Dari Salah Ku Menatapmu
Hingga Rasa Itu Merasuk Dan Hancurkanku
Aku Mencintaimu…
Tak Mengapa Meski Kau Buat Ku Terluka
Tak Mengapa Meski Kau Buatku Menderita Karna Asa Yang Berlabuh Pada Dusta
Sakit Rasa Hati Ketika Sepucuk Surat Cinta Tiba,
Kubuka Dan Ku Baca Dengan Terbata
Och..Bukan Untukku Rupanya
Berlariku Menerjang Memporak Porandakan Puing
Darah Mengalir Mengucur Deras
Aku Tak Peduli…
Tenggelam Raga Dilautan Merah Darah
Hilang Sudah Dahaga Dan Tak Dapat Lagi Ku Berkata
Karena Ogsigen Telah Habis Didada
Lelah Dan Tak Lagiku Sanggup Bertahan
Setimpal Sudah Perbandingannya
Sempurna Dan Senada
Semoga Kau Bahagia Dengan Cintamu Untuknya

AKU

Aku

Pengarang: Chairil Anwar
Kategori: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi